Publikasi Pers

Untuk Pengembangan Peternakan Indonesia, Pemerintah Dorong Pembiakan dan Penggemukan Sapi Hidup di Dalam Negeri

Kamis, 02 Oktober 2025

Humas Badan Pangan Nasional

Deskripsi

JAKARTA – Dampak ekonomi lanjutan dengan peningkatan pengadaan live cattle (ternak hidup) dan dilanjutkan pembiakan di dalam negeri diyakini akan mampu mengembangkan peternakan lokal. Pemerintah ke depannya tidak hanya memenuhi ketersediaan daging ruminansia dari pengadaan dalam bentuk daging beku saja dikarenakan dampak ekonomi lanjutannya tidak luas. 

Untuk itu, pemerintah akan mulai mereduksi angka pengadaan daging beku dari luar negeri dan membuka pengadaan live cattle dengan berbagai jenis. Hal ini diutarakan oleh Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi dalam wawancara cegat usai Rapat Koordinasi Terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta pada Rabu (1/10/2025).

"Bapak Menko Pangan itu, sesuai arahan Bapak Presiden, ingin mengembangkan sapi hidup. Jadi bukan daging langsung yang diimpor, tetapi sapi hidupnya. Kita pengennya kan bukan daging yang banyak tapi sapi hidup, supaya bisa ekonominya di pedesaan itu hidup. Jadi ada pembiakan dan penggemukan di situ," kata Arief.

"Nah itu yang tadi Pak Menko sampaikan, itu dibuka. Kalau impor sesuai kebutuhan. Kalau sudah banyak, impornya dikurangi. Jadi Pak Menko tadi menyampaikan, kalau sudah dibatasi di dagingnya, sapinya diperbesar. Kalau tidak begitu, nanti peternakan kita tidak berkembang," tambah Arief.

Perlunya kebutuhan pasokan dari luar negeri tersebut salah satunya berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan untuk daging sapi/kerbau. Per 2 September, produksi daging sapi/kerbau dalam negeri sepanjang tahun 2025 diperkirakan sebanyak 555,1 ribu ton. Ini meningkat sekitar 17,8 persen dibandingkan 2024 yang 471,2 ribu ton. Sementara proyeksi kebutuhan setahun di 2025 berkisar di 766,9 ribu ton, sehingga ada defisit antara produksi dan konsumsi. 

"Kita patut memberikan apresiasi kepada teman-teman di Kementerian Pertanian yang terus meningkatkan produksi daging ruminansia dalam negeri secara gradual. Produksi dalam negeri tetap harus diutamakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," ucap Arief.

Terkait perkembangan harga daging ruminansia sebagaimana yang dipantau dalam Panel Harga Pangan NFA, per 1 Oktober masih cukup stabil. Rerata harga daging sapi secara nasional berada di Rp 134.900 per kilogram (kg). Ini menurun 0,17 persen dibandingkan sebulan sebelumnya yang Rp 135.133 per kg. Sementara rerata harga daging kerbau lokal di Rp 141.080 per kg dan menurun 0,20 persen dibandingkan sebulan sebelumnya yang Rp 141.361 per kg.

Lebih lanjut, menurut Arief, dengan menggalakkan pembiakan dan penggemukan sapi hidup di dalam negeri akan menciptakan dampak ekonomi lanjutan. Sementara kalau pengadaan hanya berupa daging beku, dampak ekonominya sangat terbatas.

"Karena ekonomi kita itu kalau ada pembiakan dan penggemukan kan ada yang ngarit, ada yang ngasih hijauan, ada yang ngasih pakan. Itu kan ada tenaga kerja untuk membiakkan dan menggemukan itu. Jadi bukan hanya beli daging, habis itu keuntungannya di pedagang dan importir saja," sebut Arief.

"Pokoknya intinya Rakortas hari ini untuk mengembangkan peternakan dalam negeri. Kalau kita belinya daging, maka yang berkembang adalah peternakan di luar negeri. Tapi kalau kita belinya itu sapi bakalan, kemudian sapi untuk breeder, sapi untuk perah, itu artinya kita akan kembangkan yang ada di Indonesia," jelas Arief.

"Kalau di ruminansia itu kan ada daging frozen, ada daging chilled sama sapi bakalan yang untuk konsumsi. Lalu sapi hidup itu ada tiga. Sapi untuk breeding, itu maksudnya untuk beranak. Kemudian sapi bakalan. Satu lagi, sapi perah. Pastinya nanti ada pengurangan impor yang di daging. Itu nanti kita hitung lagi. Ini kan masih neraca," sambungnya.

Terakhir, Kepala NFA Arief Prasetyo Adi mengungkapkan rencana pemerintah membudidayakan sapi hidup melalui jaringan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Melalui skema tersebut dapat menciptakan keuntungan untuk ekonomi rakyat.

"Tadi ada masukan juga, jadi di Kopdes-kopdes, nanti setiap desa itu juga harusnya ada sapi hidup. Misalnya beli 3 juta ekor, terus nanti dalam 3, 4, sampai 5 bulan bisa jadi 15 juta-20 juta. Ini kan petaninya kan bisa dapet gain, dapet keuntungan dari situ," tutup Arief.


———————————————

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Email: komunikasi@badanpangan.go.id

Telepon: 0877-8322-0455


Siaran Pers

Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA)

387/R-NFA/X/2025

2 Oktober 2025