Publikasi Pers

Redam Tingkat Inflasi Cabai, Bapanas Tanggung Biaya Pengiriman Pasokan ke Daerah Defisit

Kamis, 15 Oktober 2026

Humas Badan Pangan Nasional

Deskripsi

JAKARTA — Komoditas cabai dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi pendorong utama pada inflasi umum di September tahun 2026. Cabai rawit memiliki andil paling tinggi dengan 0,08 persen dan cabai merah menyumbang andil 0,06 persen terhadap inflasi umum secara bulanan.

Kendati begitu, pemerintah memastikan produksi cabai di Oktober masih mencukupi, namun aspek pemerataan distribusi pasokan masih perlu diatasi secara kolaboratif. Dalam hal ini, Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah menyiapkan skema agar pasokan cabai dari daerah sentra produsen dapat lebih lancar mengguyur daerah yang mengalami defisit, termasuk ke daerah yang bukan sentra produsen.

"Bagi yang di daerahnya bukan daerah sentra produksi, kekurangan cabai, karena cabai saat ini, produksi yang paling tinggi salah satunya ada di Aceh, Bapanas bisa membantu subsidi untuk membantu pengiriman," ujar Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas Hermawan dalam rapat koordinasi dengan Satgas Pangan Polri dan pemerintah daerah dikutip di Jakarta pada Kamis (15/10/2026).

Sebagai bentuk konkretnya, dalam waktu dekat ini Bapanas sedang mengupayakan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) cabai rawit merah dari Probolinggo, Jawa Timur untuk dikirimkan ke Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Ini dilaksanakan bersama Champion Cabai binaan Kementerian Pertanian (Kementan).

Untuk itu, Deputi Bapanas Hermawan mendorong pemerintah daerah agar terus proaktif untuk mengatasi fluktuasi cabai yang terjadi di wilayahnya. Langkah mitigasi penting untuk segera dilaksanakan sehingga inflasi cabai-cabaian dapat semakin mereda.

"Silakan membuat surat ke Bapanas agar kita bisa membantu memitigasi terkait masalah cabai, karena kemarin inflasi yang paling terbesar, nomor satu itu adalah cabai rawit. Kemudian cabai merah. Jadi cabai-cabaian ini seluruhnya, inflasinya sangat tinggi, harus segera kita redam," kata dia.

Dalam pantauan harga cabai rawit di tingkat konsumen oleh Bapanas, per 14 Oktober rerata harga secara nasional berada di Rp 93.629 per kilogram (kg). Terpantau untuk Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur masih mencatatkan rentang harga cabai rawit yang cukup stabil di kisaran Rp 57.000 sampai Rp 65.000 per kg. 

Sementara untuk rerata harga cabai merah keriting di tingkat konsumen, Bapanas mencatat rerata harga secara nasional berada di Rp 79.913 per kg. Sebagian besar regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara tercatat berada di rentang harga cukup stabil mulai Rp 50.000 sampai 64.000 per kg.

Daerah yang perlu dilakukan intervensi penekan harga cabai antara lain tersebar di sebagian regional Sumatera dan juga regional Kalimantan, Sulawesi, Maluku sampai Papua. Faktor geografis menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah, sehingga upaya pemerataan distribusi pasokan dari sentra produsen cabai perlu mempertimbangkan aspek jarak antardaerah.

Terpisah, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat (STO) Kementan Sudi Mardianto memastikan sebaran 26 kabupaten penghasil cabai rawit dan cabai besar di Oktober ini dapat menyokong kerja sama antardaerah. Dalam data Kementan, sebarannya tidak hanya regional Jawa, tapi juga ada di Sumatera sampai Sulawesi.

"Bahwa dari 26 kabupaten ini ini menyumbang sekitar 65 persen dari total produksi cabai nasional. Artinya posisi kabupaten-kabupaten yang keberadaan Champion Cabai ini berada, ini adalah salah satu solusi untuk bagaimana kita dapat mengendalikan kondisi harga cabai di beberapa provinsi yang mengalami lonjakan cukup tinggi," ungkap Sudi dalam rapat pengendalian inflasi di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta (12/10/2026).

Direktur Kementan Sudi mengungkap bahwa produksi cabai rawit dan cabai besar selama Oktober ini berada di level yang memadai untuk menunjang kebutuhan konsumsi nasional. Namun surplus yang ada perlu didukung pemerataan pasokan yang salah satunya harus menyasar ke daerah-daerah yang defisit.

"Jadi untuk cabai, posisi produksi pada bulan Oktober untuk cabai rawit sekitar 133 ribu ton. Kemudian untuk cabai besarnya sekitar 115 ribu ton dan posisi produksi ini apabila dibandingkan dengan tingkat konsumsinya yang berkisar 70 ribu ton, itu sebetulnya kita secara agregat masih mengalami surplus. Tapi memang sebaran produksinya yang lebih banyak daerah-daerah yang masih mengalami defisit," kata Sudi.

Adapun dalam data Kementan, kabupaten penghasil cabai rawit di Oktober ini antara lain Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat dengan 24,4 ribu ton, Malang dan Situbondo, Jawa Timur masing-masing 10,8 ribu ton dan 7,6 ribu ton serta Aceh Tengah, Aceh 6 ribu ton. 

Sementara untuk kabupaten penghasil cabai besar antara lain Kerinci, Jambi dengan 20,2 ribu ton, Aceh Tengah, Aceh 18,1 ribu ton, Kulon Progo, D.I. Yogyakarta 4,8 ribu ton, dan juga Garut, Jawa Barat 3,6 ribu ton serta Simalungun Sumatera Utara 3 ribu ton.

Kementan juga mengupayakan produksi cabai nasional kuat menjelang akhir tahun dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan di awal tahun depan. Ini penting untuk menjaga kestabilan harga cabai nasional saat permintaan konsumsi cenderung naik pada momentum akhir tahun dan HBKN.

"Selama 2 bulan terakhir, September-Oktober, ini juga dorongan pertanaman untuk di wilayah champion yang kami upayakan agar di hari Natal dan Tahun Baru khususnya dan menjelang Ramadan di tahun 2027, gejolak harga cabai tidak terlalu tinggi. Ini di 2 bulan yang pertama di September-Oktober itu untuk cabai rawit ada sekitar 1.023 hektare tanaman baru. Kemudian untuk cabai besar ada 1.070 hektare," pungkas Direktur Sudi.


-----------------

Siaran Pers

Badan Pangan Nasional (Bapanas)

519/R-BAPANAS/X/2026

15 Oktober 2026