Publikasi Pers

Pertumbuhan Ekonomi Tembus 5,11 Persen, Bapanas Bantu Jaga Daya Beli Masyarakat dengan Akses Pangan Terjangkau

Jumat, 06 Februari 2026

Humas Badan Pangan Nasional

Deskripsi

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 diumumkan menorehkan angka yang cukup baik pada level 5,11 persen dan ini tertinggi sejak 2023. Sementara untuk pertumbuhan ekonomi (year on year), Indonesia berada di 5,39 persen untuk triwulan IV tahun 2025 dan juga menjadi capaian triwulan IV tertinggi sejak pagebluk COVID-19.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan empat 2025 bila dibandingkan dengan triwulan empat 2024 atau secara year on year, mengalami pertumbuhan sebesar 5,39 persen. Pertumbuhan ini merupakan pertumbuhan tahunan triwulan empat tertinggi pasca pandemi COVID," papar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti di Jakarta pada Kamis (5/2/2026).

"(Kemudian) bila kita bandingkan dengan tahun 2024, ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen. Jika dilihat dari sumber pertumbuhan, maka sepanjang tahun 2025, konsumsi rumah tangga memberikan sumber pertumbuhan terbesar yaitu 2,62 persen," tambah Amalia.

Secara kumulatif, BPS melaporkan konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang utama Produk Domestik Bruto (PDB). Komponen dengan distribusi terbesar adalah konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 53,8 persen dan pertumbuhannya pada tahun 2025 sebesar 4,98 persen.

Mengenai tren positif tersebut, Kepala BPS Amalia menjelaskan hal tersebut dipengaruhi salah satunya berkat daya beli masyarakat yang terjaga. Pemantiknya karena pemerintah konsisten menggelontorkan kebijakan stimulus ekonomi setiap kuartal selama tahun 2025.

"Tentunya untuk triwulan empat ini kita merekam seluruh data yang terjadi di dalam perekonomian Indonesia, karena memang salah satunya adalah daya beli masyarakat tetap terjaga. Kemudian adanya insentif dari kebijakan stimulus ekonomi," jelas Amalia.

BPS menyebut komponen konsumsi rumah tangga merupakan penggerak atau driver terpenting pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan konsumsi rumah tangga yang terjaga turut pula menandakan daya beli masyarakat yang baik. Andil terhadap PDB pun dapat berprogres positif.

"Driver dari pertumbuhan ekonomi sisi pengeluaran adalah pertama konsumsi rumah tangga di kuartal keempat yang tumbuh 5,11 persen. Kita tahu bahwa konsumsi rumah tangga ini kan share-nya terhadap PDB pengeluaran mencapai 53,63 persen. Jadi ini yang menjadi driver pertama dari sisi pengeluaran," tambah dia.

Guna menjaga daya beli masyarakat tersebut, Badan Pangan Nasional (Bapanas) tak pernah abstain mendukung pelaksanaan program stimulus ekonomi. Terlebih Bapanas didaulat untuk menjaga hilir dari rantai pasok pangan agar memastikan masyarakat dapat memperoleh akses pangan yang terjangkau.

Pada 2025, dalam pelaksanaan program stimulus ekonomi kuartal ketiga tahun 2025, Bapanas telah menugaskan Perum Bulog untuk penyaluran bantuan pangan. Mulai Juli, bantuan pangan beras 20 kilogram (kg) diberikan gratis ke masing-masing keluarga penerima manfaat (KPM) untuk alokasi 2 bulan.

Realisasinya sampai November 2025 telah menjangkau lebih dari 18 juta KPM di seluruh Indonesia. Anggaran yang telah dikucurkan pemerintah untuk program prorakyat tersebut adalah sebesar Rp 4,97 triliun.

Tak berhenti di situ, pemerintah kembali menggulirkan program bantuan pangan sebagai bagian dari stimulus ekonomi kuartal keempat tahun 2025. Kali ini tidak hanya beras yang disalurkan, tapi ditambah lagi dengan MinyaKita, sehingga paket bantuan terdiri dari beras 20 kg dan MinyaKita 4 liter bagi setiap KPM untuk alokasi 2 bulan.

Sampai akhir Desember, realisasi penyaluran bantuan pangan beras dan minyak goreng ini telah mencapai lebih dari 17  juta KPM. Total anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk pelaksanaan program bantuan pangan ini berkisar Rp 6,5 triliun.

Program bantuan pangan seperti ini menjadikan masyarakat yang benar-benar membutuhkan dapat lebih terbantukan dalam pengeluaran konsumsi sehari-harinya. Ini karena kebutuhan terhadap pangan pokok telah disokong pemerintah. Daya beli masyarakat pun semakin terjaga dengan roda ekonomi terus berjalan, termasuk dimulai dari masyarakat desil satu.

Dalam berbagai kesempatan, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman selalu menekankan bahwa urusan pangan tidak boleh bermasalah bagi masyarakat. Upaya secara terus-menerus terhadap penstabilan harga pangan pokok strategis akan dilaksanakan pemerintah secara berkelanjutan.

"Ingat kalau pangan bermasalah, negara bermasalah. Sesuai perintah Bapak Presiden, untuk stabilkan harga. Kita jaga harga pangan sampai Ramadan selesai. Fokus kita sekarang memastikan stabilisasi harga agar daya beli masyarakat tetap terjaga," kata Amran.

Amran pun memastikan pemerintah akan melanjutkan program bantuan pangan beras dan minyak goreng untuk kuartal pertama di tahun 2026 ini. Bahkan jumlah KPM ditingkatkan secara eksponensial hingga 33,2 juta KPM dari sebelumnya yang 18 juta KPM.

"Dalam rangka menjaga stabilitas pasokan harga pangan, Badan Pangan Nasional melaksanakan langkah strategis, salah satunya penyaluran bantuan pangan 10 kilogram dan 2 liter MinyaKita selama dua bulan sebesar 33,2 juta KPM," sebut Kepala Bapanas Amran.

Di sisi lain, BPS juga turut melaporkan sektor pertanian menjadi salah satu lapangan usaha dengan sumber pertumbuhan terbesar dengan raihan 5,33 persen secara kumulatif. Ini didukung berkat subsektor tanaman pangan yang tumbuh 9,94 persen dan peternakan yang bertumbuh 7,78 persen.

Faktor pengungkitnya antara lain meningkatnya produksi padi dan jagung di subsektor tanaman pangan. Tak jauh berbeda, adanya peningkatan produksi telur dan daging ayam ras yang salah satunya untuk pemenuhan suplai Makan Bergizi Gratis turut menopang pertumbuhan di subsektor peternakan.


---------

Siaran Pers

Badan Pangan Nasional (Bapanas)

057/R-BAPANAS/II/2026

6 Februari 2026