Kamis, 20 November 2025
Humas Badan Pangan Nasional
Deskripsi
JAKARTA – Torehan positif kinerja pemerintah bersama Perum Bulog sepanjang tahun 2025 menjadi kristalisasi kerja keras dan kolaborasi yang patut dipertahankan dan dilanjutkan. Di penghujung 2025 ini, sejumlah langkah antisipatif pun mulai dipersiapkan untuk menyongsong tahun 2026 agar semakin berprogres.
Untuk itu, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman secara langsung menyampaikan apresiasinya dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Bulog di Jakarta pada Kamis (20/11/2025). Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto pun menyampaikan apresiasi pula kepada jajaran Bulog di seluruh Indonesia.
"Kami datang menyampaikan apresiasi yang disampaikan oleh Bapak Presiden kepada Bulog. Bahwasanya, stoknya tertinggi sepanjang sejarah. Ini berkat kerja keras seluruh direksi, dewan pengawas dan timnya, pimwil ke bawah. Ini adalah hasil kerja keras kita semua," sebut Amran.
"Dan ini disampaikan Bapak Presiden di PBB, di New York dan dihadiri oleh seluruh pemimpin dunia pada saat itu. Sekarang sekali lagi, apresiasi dari Bapak Presiden dan juga kami dari sebagai Menteri, Kepala Bapanas, dan pribadi kami ucapkan terima kasih yang tak terhingga," kata Amran lagi.
Salah satu capaian eksponensial Bulog di 2025 ini adalah stok beras sampai akhir tahun yang akan menjadi stok tertinggi yang pernah dimiliki. Proyeksi stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sampai akhir tahun ini akan masih berada lebih dari 3 juta ton dan tanpa ada impor.
"Ke depannya, yang perlu diantisipasi karena perkiraan kami 1 bulan ke depan, stok tertinggi di Desember sampai Januari. Ini perkiraan kami, 3 juta ton berarti itu tertinggi selama 57 tahun," ungkap Amran.
Bapanas mencatat sejak tahun 2008 atau dalam 18 tahun terakhir, stok CBP sampai akhir tahun belum pernah menyentuh level 3 juta ton. Selain itu, CBP yang tanpa dipasok dari impor pun juga belum pernah tersisa hingga 3 juta ton sampai akhir tahun.
Tercatat di tahun 2008 yang tak ada impor, stok akhir CBP berada di 1,1 juta ton. Lalu 2009 yang juga nol impor, di akhir tahunnya menyisakan 1,6 juta ton. Sementara di 2019 sampai 2021 yang juga tidak ada impor beras, sampai akhir tahun stok CBP masing-masing di tiga tahun tersebut berada di angka 2,2 juta ton, 1,9 juta ton, dan 0,8 juta ton.
Untuk tahun ini, stok beras pemerintah sampai 19 November totalnya masih ada 3,903 juta ton yang terdiri dari CBP 3,719 juta ton dan komersial 183,6 ribu ton. Dari itu, Bulog telah melakukan pengadaan dalam negeri sepanjang tahun ini sebanyak 3,325 juta ton yang terdiri dari 3,107 juta ton untuk CBP dan 217,9 ribu ton stok komersial.
Kemudian penyaluran CBP ke masyarakat telah mencapai 1,094 juta ton dan akan terus terakselerasi hingga penghujung tahun. Program-program penyaluran CBP yang melalui penugasan dari Bapanas ke Bulog antara lain Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras, bantuan pangan beras, bencana dan keadaan darurat, sampai beras untuk golongan anggaran PNS.
Langkah selanjutnya, Mentan/Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menuturkan telah memberikan direktif ke Bulog untuk mempersiapkan panen raya di 2026 mendatang. Ia menggarisbawahi agar Bulog mempersiapkan fasilitas penyimpanan untuk stok yang besar.
"Nah, sekarang harus dipersiapkan Februari sampai April (2026), itu butuh penyerapan 3 juta ton. 3 juta ton (stok tahun ini) tambah 3 juta ton (penyerapan tahun depan), (bisa capai) 6 juta ton. Ini tantangannya adalah gudang harus disiapkan dari sekarang karena ini tidak mudah. Tapi, kami yakin dengan pengalaman kemarin, Bulog sudah siap," ucap Amran.
Adapun terdapat perkiraan produksi beras Indonesia yang terbaru dari Food and Agriculture Organization (FAO). Dalam Food Outlook edisi November 2025, FAO memprediksi produksi beras Indonesia untuk periode 2025-2026 dapat mencapai 36 juta ton.
Proyeksi ini meningkat jika dibandingkan Food Outlook FAO edisi Juni 2025 sebelumnya yang memperkirakan produksi beras Indonesia di angka 35,6 juta ton. FAO pun melaporkan musim 2025-2026 akan mencatatkan rekor produksi beras global yang naik 1,2 persen dibandingkan musim sebelumnya.
Dengan produksi beras 36 juta ton tersebut, menasbihkan Indonesia menjadi produsen beras terbesar di kawasan Asia Tenggara. Indonesia disebut melebihi Vietnam 28,2 juta ton, Thailand 22,2 juta ton, Myanmar 16,7 juta ton, Filipina 12,5 juta ton hingga Malaysia 1,5 juta ton.
Untuk itu, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengaku pihaknya siap menyambut panen raya tahun depan. Peningkatan produksi dalam negeri akan didukung Bulog dengan melakukan penyerapan sesuai penugasan dari pemerintah.
"Hari ini Bulog melaksanakan Rakernas. Ada beberapa poin yang menjadi stressing kami. Yang pertama adalah terkait dengan antisipasi kaitan dengan tugas-tugas ke depan. Dimana dengan meningkatnya produksi pangan, dari hulu, dihadapkan dengan turunnya pupuk dan semakin meningkatnya produksi pertanian, maka otomatis panen akan lebih besar," urainya.
"Sedangkan sekarang stok yang ada di gudang kami sekarang sudah 3,8 juta ton. Prediksi kami, ini akan habis, (sisa) sekitar 3,2 juta ton di akhir Desember nanti. Sedangkan 3,2 juta ton ini kan perlu ada penyerapan baru. Seperti disampaikan Pak Mentan, sekitar bulan Februari, Maret, April, Mei, ini kan puncak panen. Oleh karena itu, Bulog ke depan akan menambah gudang," tutur Rizal.
Dirut Rizal menjelaskan bahwa sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, Bulog akan membangun 100 Infrastruktur Pascapanen (IPP) yang meliputi gudang penyimpanan beras dan jagung, fasilitas pengering, unit penggilingan, silo, dan rice to rice serta mengutamakan pembangunan di daerah 3TP (Tertinggal, Terdepan, Terluar, Perbatasan). Sebanyak 51 IPP akan dibangun di lahan Bulog dan 49 di lahan hibah dari pemerintah daerah.
----------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
434/R-BAPANAS/XI/2025
20 November 2025