Rabu, 30 September 2026
Humas Badan Pangan Nasional
Deskripsi
PASURUAN - Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menegaskan dukungannya terhadap upaya mewujudkan swasembada susu nasional melalui penguatan produksi susu dalam negeri. Menurutnya, kebutuhan susu nasional harus sebisa mungkin dipenuhi dari produksi peternak lokal, sementara impor hanya menjadi pilihan sementara selama produksi dalam negeri belum mencukupi.
“Kita gak ada yang mau impor, kita semua pengennya produksi lokal. Tapi kalau lokalnya belum memenuhi, sementara kita butuh susu untuk anak-anak ini supaya dia cerdas gitu ya, ya mau gak mau ada di impor, tapi harus dibatasi. Harus dilindungi juga, untuk melindungi harga susu lokal, supaya peternak-peternak ini juga terlindungi,” tegas Titiek saat Kunjungan Kerja Spesifik (Kunsfik) Komisi IV DPR RI di Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Suka Makmur, Kabupaten Pasuruan, Senin (28/9/2026).
Menurut Titiek, peningkatan produksi susu dalam negeri menjadi kebutuhan mendesak mengingat produksi nasional saat ini baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan susu. Kondisi tersebut, kata dia, perlu segera ditindaklanjuti melalui berbagai upaya untuk mendorong produktivitas peternak lokal.
“Produksi nasional hanya 20?ri kebutuhan, sisanya impor. Nah ini gak bisa nih kayak gini. Dan juga Presiden Prabowo mencanangkan bahwa kita harus swasemada susu dan swasemada daging sapi. Jadi harus digenjot bagaimana caranya,” ungkap Titiek.
Sejalan dengan hal tersebut, Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andriko Noto Susanto menjelaskan bahwa susu merupakan salah satu sumber protein hewani yang berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan protein masyarakat.
“Susu ini kan merupakan sumber protein. Jadi kalau kita bicara protein, sebenarnya kita sekarang sudah swasembada. Nah, cuma sumbernya (protein hewani) itu bukan dari susu yang utama. Yang utama kita sumbernya adalah ikan. Kemudian yang kedua adalah daging ayam, ketiga telur. Kemudian yang empat, daging ruminansia. Dan yang kelima adalah susu. Nah, susu ini 20 persen saja yang bisa kita produksi di dalam negeri,” ujar Andriko.
Meski kontribusi produksi susu dalam negeri saat ini masih terbatas, Andriko melihat peluang untuk meningkatkan produksi melalui pengembangan potensi peternakan lokal. Salah satunya melalui pemanfaatan sapi unggul yang memiliki kemampuan adaptasi dan produktivitas susu yang baik.
“Tadi kita bisa saksikan bahwa untuk usaha swasembada susu itu, itu sangat bisa, sangat mungkin. Karena di sini juga memiliki sapi perah jenis Grati. Jadi sapi perah jenis Grati itu adalah sapi unggul hasil persilangan sapi kita di dalam negeri. Jadi, memiliki keunggulan adaptif yang baik. Dan produksi susunya juga cukup tinggi. Bisa mencapai 30 liter per hari, per ekor,” ujarnya.
Menurut Andriko, keberadaan sapi perah jenis Grati di Pasuruan menunjukkan bahwa pengembangan peternakan berbasis potensi lokal dapat menjadi salah satu bagian dari upaya meningkatkan produksi susu nasional. Dengan dukungan pengembangan bibit, produktivitas, dan penguatan usaha peternak, kapasitas produksi susu dalam negeri dinilai masih memiliki ruang untuk terus ditingkatkan.
Potensi peningkatan produksi susu juga terlihat dari daerah sentra peternakan seperti Kabupaten Pasuruan. Bupati Pasuruan Mochamad Rusdi Sutejo menyampaikan bahwa wilayahnya merupakan salah satu daerah penghasil susu terbesar di Jawa Timur.
“Alhamdulillah kami Kabupaten Pasuruan penghasil susu nomor 2 se-Jawa Timur setelah Kabupaten Malang. Susu kita, koreksi kalau kami salah, sekarang populasi sapi perah Kabupaten Pasuruan saat ini berjumlah 96.332 ekor yang tersebar di beberapa kecamatan dengan produksi 295 ton susu per hari,” ungkap Rusdi.
Potensi tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat basis produksi susu nasional. Dengan penguatan produktivitas, perlindungan terhadap peternak, serta dukungan kebijakan yang mendorong keberlanjutan usaha peternakan, produksi susu lokal diharapkan semakin mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.
KUTT Suka Makmur Grati telah berdiri sejak 1968 dan konsisten mengembangkan produksi susu segar berbasis peternak lokal. Saat ini, koperasi tersebut menaungi sekitar 1.600 anggota aktif dengan populasi 8.700 ekor sapi perah dan kapasitas produksi mencapai 30 hingga 35 ton susu per hari. Kapasitas tersebut menjadi salah satu potensi penting dalam memperkuat produksi susu dalam negeri dan mendukung upaya mewujudkan swasembada susu nasional.
-----------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
496/R-BAPANAS/IX/2026
30 September 2026