Rabu, 16 September 2026
Humas Badan Pangan Nasional
Deskripsi
JAKARTA — Pemerintah memastikan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) untuk menghadapi musim kemarau dan dampak El Nino masih terbilang cukup kuat. Dengan stok yang masih di angka 4,6 juta ton, pemerintah secara konsisten menggelontorkan melalui berbagai program intervensi ke masyarakat.
Ini dapat dilihat pada total salur CBP sepanjang tahun 2026 ini yang sampai pertengahan September telah mencapai lebih dari 2 juta ton. Rinciannya antara lain realisasi penjualan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) pada Januari-Februari yang 221,05 ribu ton. Kemudian realisasi SPHP beras Maret sampai September yang mencapai 794 ribu ton.
Ada pula realisasi program bantuan pangan tahap pertama 662,86 ribu ton dan bantuan pangan tahap kedua yang telah mulai berjalan hingga 584 ribu ton. Terakhir, penyaluran bantuan bencana dan keadaan darurat 13,1 ribu ton dan golongan anggaran 58,9 ribu ton.
Apabila dikomparasikan terhadap September tahun 2025, stok beras pemerintah di Bulog telah meningkat sebesar 18 persen dari 3,9 juta ton kala itu, saat ini menjadi 4,6 juta ton. Sementara total salur pun melesat pesat 191 persen dari 790,8 ribu ton pada September 2025, saat ini telah mencapai hingga 2,3 juta ton.
"Alhamdulillah pangan kita dalam kondisi aman, khususnya beras, di tengah goncangan dunia, krisis pangan, krisis energi, dan krisis air. Ini terjadi di belahan dunia. Bahkan ada El Nino yang sangat ekstrem, ini terberat menurut BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). (Namun) stok CBP kita masih aman," sebut Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dikutip di Jakarta pada Rabu (16/9/2026).
Di kesempatan berbeda, Bapanas optimis program intervensi perberasan sepanjang tahun 2026 ini dapat lebih digerojok. Penambahan kuantum program SPHP beras untuk menyasar daerah yang mengalami fluktuasi harga beras menjadi target pemerintah.
"Dalam rangka mengendalikan harga beras, penguatan instrumen intervensi pasar melalui penambahan kuantum SPHP beras sebesar 1 juta ton. Penambahan kuantum tersebut saat ini dalam proses perhitungan dan pengajuan ABT (Anggaran Belanja Tambahan)," ungkap Direktur Perumusan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas Yusra Egayanti di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta (14/9/2026).
Bapanas juga mendorong Perum Bulog dapat melakukan pemerataan stok dengan mengutamakan wilayah yang sedang mengalami tekanan harga beras. Selain itu, Bulog juga diharapkan dapat melaksanakan pemeliharaan stok yang tersimpan di gudang secara baik.
"Tentunya penugasan Bulog untuk pemerataan distribusi stok dan program SPHP, terutama ke wilayah yang mengalami tekanan harga dan pasokan. Kami terus berkoordinasi dengan Bulog untuk intervensi SPHP ke daerah yang teridentifikasi harga tinggi dan tentunya pemeliharaan stok CBP sebagai buffer strategis untuk menghadapi potensi gangguan produksi akibat El Nino," tambah Direktur Ega.
Di forum yang sama, Direktur Operasi Perum Bulog Andi Afdal menjelaskan penyaluran CBP ke masyarakat sejak awal September telah digenjot. Namun meskipun stok beras Bulog berada di bawah angka 5 juta ton, ini masih aman dan memadai untuk menopang berbagai program intervensi perberasan.
"Kalau akhir bulan lalu, stok CBP kita masih di atas 5 juta ton. 5,2 juta ton. Seiring dengan kita menggelontorkan melalui bantuan pangan maupun SPHP, CBP kita sekarang relatif masih aman di atas 4 juta ton. Tapi memang terjadi penurunan yang cukup banyak sekitar 500 ribu ton, kita keluarkan di awal September sampai pertengahan September ini," terang Andi.
Direktur Bulog Andi Afdal pun meminta dukungan dari segenap pemerintah daerah untuk berkolaborasi bersama Bulog yang ada di seluruh penjuru negeri. Ia memastikan stok tersedia di seluruh daerah.
"(Kepada) pemerintah daerah, mohon izin untuk dibantu berkolaborasi terus menerus, dengan catatan bahwa kita sudah punya tambahan kuota 1 juta ton, mulai dari September sampai bulan Maret 2027. Harapan kita tidak ada hambatan lagi, ketersediaan kalau stok ini tersedia insya Allah di setiap gudang-gudang Bulog terdekat yang ada di seluruh daerah," beber dia.
Adapun kondisi harga beras secara nasional dalam pantauan Bapanas mulai mengalami depresiasi secara gradual. Per 13 September rerata harga beras medium secara nasional atau gabungan dari 3 zona berada di Rp 13.669 per kilogram (kg). Ini menurun 0,03 persen dibandingkan seminggu sebelumnya. Sementara beras premium di Rp 16.166 per kg atau menurun 0,02 persen.
Menilik perkembangan tingkat inflasi khusus beras sampai Agustus tahun 2026 mengalami penstabilan, baik secara tahunan maupun bulanan. Adapun inflasi khusus beras secara tahunan berada di 2,77 persen setelah bulan sebelumnya di 3,10 persen.
Sementara, level inflasi beras secara bulanan sampai Agustus tahun 2026 ikut menurun dengan berada di 0,42 persen setelah bulan lalu di 0,49 persen. Perlu diketahui, inflasi beras secara bulanan selama tahun 2026 ini masih sangat stabil karena belum pernah melampaui angka 1 persen.
-----------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
478/R-BAPANAS/IX/2026
16 September 2026