Kamis, 12 Maret 2026
Humas Badan Pangan Nasional
Deskripsi
JAKARTA — Sejumlah konsumen di berbagai daerah menyampaikan bahwa harga pangan di pasar tradisional masih relatif terkendali dan pasokan mudah ditemukan menjelang Lebaran. Meskipun terdapat fluktuasi pada beberapa komoditas, masyarakat menilai kondisi pasar masih cukup kondusif untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Maryati, seorang konsumen di Pasar Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, mengungkapkan bahwa harga beberapa komoditas bahkan mengalami penurunan dibandingkan minggu sebelumnya.
“Sekarang lebih turun dibandingkan minggu lalu. Semua kebutuhan rumah tangga saya beli di pasar ini. Harga ayam sebelumnya minggu lalu Rp 40.000, sekarang turun jadi Rp 38.000 per kilogram. Sampai saat ini kita bersyukur. Buat pemerintah kita juga sangat antusias mendukung. Kalau bisa turun lagi ya bersyukur sekali,” ujarnya, Rabu (11/3/2026).
Hal serupa disampaikan Zuria, warga yang berbelanja di Pasar Jombang, Tangerang Selatan. Ia melihat adanya perubahan harga pada sejumlah komoditas pada minggu kedua Ramadan, meskipun perubahannya tidak terlalu signifikan.
“Ada perubahan harga di minggu kedua ini, ada yang lebih murah sedikit. Ayam juga stabil. Mudah-mudahan harga pangan bisa turun lagi menjelang Lebaran,” kata Zuria.
Sementara itu, Rena, konsumen di Tanah Laut, Kalimantan Selatan, menilai kenaikan harga yang terjadi masih dalam batas wajar dan tidak terlalu membebani masyarakat. Ia juga menyebutkan bahwa ketersediaan barang di pasar masih cukup baik.
“Harga memang ada kenaikan, tapi masih aman, tidak terlalu naik. Saya harap pedagang juga mengambil keuntungan sewajarnya saja. Yang penting barang tidak susah dicari, dan sekarang masih tersedia semua,” ungkapnya.
Stabilitas pasokan dan harga pangan di lapangan ini tercermin dalam indikator perkembangan inflasi pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi pangan di Ramadan tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya
Adapun inflasi pangan secara bulanan masih cukup terkendali. Komponen volatile food pada Februari 2026 tercatat 2,50 persen (month to month) dengan andil 0,41 persen terhadap inflasi umum secara bulanan dan secara tahunan berada di level 4,64 persen. Ini juga masih dalam rentang sasaran pemerintah sebesar 3 sampai 5 persen.
Jika dibandingkan dengan periode Ramadan pada beberapa tahun sebelumnya, inflasi pangan tahunan sebesar 4,64 persen pada tahun ini juga tercatat lebih stabil. Inflasi pangan tahunan pada Ramadan 2022 tercatat 5,48 persen, meningkat menjadi 5,83 persen pada Ramadan 2023, dan bahkan sempat mencapai 10,33 persen pada Ramadan 2024.
Torehan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih terjaga. Pemerintah pun memastikan akan turut pula menjaga dinamika kondisi harga pangan pokok agar terus berada di dalam koridor kewajaran sebagaimana ketentuan harga yang ditetapkan pemerintah.
Untuk menjaga stabilitas pangan tersebut, pemerintah terus melakukan berbagai Langkah strategi seperti memasifkan Gerakan Pangan Murah (GPM) di berbagai daerah, mendorong kerja sama antardaerah di mana daerah surplus dapat memasok bahan pangan ke daerah defisit sehingga keterjangkauan pangan lebih merata.
Selain itu, pemerintah melalui Satgas Saber pelanggaran harga, keamanan, dan mutu pangan juga terus melakukan pengawasan di berbagai daerah. Selama periode 5 Februari sampai 11 Maret telah terlaksana 47.217 kegiatan. Satgas Saber telah mengeluarkan 705 surat teguran, koordinasi pengisian stok kosong 1.494 giat, rekomendasi cabut izin usaha 2 giat, dan rekomendasi cabut izin edar 4 giat serta penegakan hukum sampai 6 giat.
--------------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
170/R-BAPANAS/III/2026
12 Maret 2026