Kamis, 02 Oktober 2025
Humas Badan Pangan Nasional
Deskripsi
JAKARTA – Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog untuk dibagikan ke masyarakat harus berada di kualitas yang baik. Saat ini program penyaluran yang masih berjalan berupa bantuan pangan dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras.
Saat dijumpai di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta pada Rabu (1/10/2025), Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA) Arief Prasetyo Adi mengaku telah meminta jajaran Bulog untuk melaksanakan pengecekan ke gudang-gudang. Arief sebut tidak boleh ada beras Bulog berkualitas kurang baik yang sampai ke masyarakat, baik sebagai penerima bantuan pangan maupun sebagai pembeli.
"Intinya kalau beras yang dibagikan ke masyarakat harus bagus. Tidak boleh alasan apapun. Jadi Badan Pangan Nasional menugaskan Bulog untuk menyalurkan bantuan pangan. Itu harus bagus. Lalu pelaksanaan SPHP beras juga harus bagus. Tidak boleh ada yang kualitasnya jelek," ujar Arief.
"Kalau di gudang itu pasti ada stok lama, pasti ada stok baru, pasti ada yang perlu di treatment. Tapi kalau sampai ke customer harus bagus. Harus aman juga. Badan Pangan juga kirim tim ke Bulog untuk cek secara random. Apalagi gudangnya ada 1.580 sekian," sambungnya.
Arief pun telah meminta jajaran di Bulog, mulai dari direksi, pimpinan wilayah (pimwil) sampai pimpinan cabang (pimca), untuk memastikan kualitas tersebut. Ia mendorong ada tahapan pemrosesan ulang untuk menjaga mutu stok beras sebelum disalurkan.
"Kita sudah minta kepada direksi Bulog, pimca, pimwil untuk cek di setiap gudangnya. Tadi pagi juga saya komunikasi sama teman-teman Bulog. Tidak boleh ada beras yang jelek yang sampai keluar. Tapi kalau di gudang Bulog itu kan pasti ada yang perlu diproses, kan ada tahapannya. Tahapannya di reprocess dulu," jelasnya.
Bagi Arief, stok beras di Bulog memang perlu senantiasa dijaga karena dibutuhkan pemerintah sebagai intervensi tatkala produksi dan konsumsi beras secara bulanan tidak seimbang. Pada momentum tersebut, harga beras kerapkali meninggi. Masyarakat memerlukan alternatif beras yang berkualitas baik, tapi masih dengan harga yang di bawah pasaran.
"Ini kita di bulan November, Desember, Januari, Februari, tentunya produksi tidak setinggi kemarin. Itu yang harus diantisipasi oleh kita semua. November, Desember, Januari, Februari, antara kebutuhan dengan produksi itu tidak seimbang, sehingga stok Bulog yang sekarang ini adalah untuk meng-cover itu, sampai ada panen raya," urainya.
"Dan saya juga wanti-wanti. Jangan sampai stok ini tidak keluar, karena nanti di bulan Maret, April, waktunya menyerap panen hasil produksi dalam negeri. Pokoknya target SPHP 1,3 juta ton harus diselesaikan. Masih sekitar 1 juta ton lagi sampai Desember. Realisasi SPHP hari ini dari awal tahun sudah 422 ribu ton," pungkasnya.
Adapun langkah memasifkan intervensi perberasan yang dilaksanakan pemerintah mulai terasa dampak positifnya. Dalam rilis Badan Pusat Statistik (BPS) terkini, rerata harga beras di tingkat eceran di September mulai menurun menjadi Rp 15.375 per kg. Ini turun 0,13 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di Rp 15.395 per kg.
Beras pun pada September 2025 dilaporkan BPS tidak mengalami inflasi jika dibandingkan pada bulan September dalam rentang 2021 sampai 2024 yang selalu mengalami inflasi. Di September 2025, beras mengalami deflasi 0,13 persen setelah sebelumnya sempat ada deflasi pada April 2025 di 0,05 persen.
———————————————
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Email: komunikasi@badanpangan.go.id
Telepon: 0877-8322-0455
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA)
386/R-NFA/X/2025
2 Oktober 2025