Kamis, 18 Juni 2026
Humas Badan Pangan Nasional
Deskripsi
JAKARTA — Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dijaga pemerintah bersama Perum Bulog senantiasa diperuntukkan untuk kebaikan masyarakat. Sejak tahun 2023, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan penyaluran CBP melalui berbagai program dapat menyasar langsung masyarakat dengan berbagai kebutuhan.
Bapanas mencatat total CBP yang telah disalurkan dalam rentang tahun 2023 sampai 2025 mencapai 7,75 juta ton. Rinciannya selama tahun 2023 di angka 2,76 juta ton. Kemudian selama 2024 mencapai 3,37 juta ton dan sepanjang 2025 telah tersalurkan 1,62 juta ton. Tentunya penyaluran CBP ditujukan untuk memberikan bantalan ekonomi dan meningkatkan akses masyarakat terhadap beras dengan harga yang lebih terjangkau.
"Pemerintah konsisten menyalurkan stok CBP untuk masyarakat melalui banyak program. Mulai dari program SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) beras, bantuan pangan dengan jutaan penerima, dan juga demi membantu masyarakat di daerah yang sedang mengalami bencana alam," tutur Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa di Jakarta pada Kamis (18/6/2026).
Adapun penyaluran stok CBP tahun 2023 dengan total 3,37 juta ton terdiri dari bantuan pangan beras 1,49 juta ton, SPHP beras 1,18 juta ton, dan golongan anggaran 87,5 ribu ton serta tanggap darurat 2,3 ribu ton. Selanjutnya penyaluran CBP sepanjang 2024 meliputi bantuan pangan beras 1,97 juta ton, SPHP beras 1,4 juta ton, dan tanggap darurat 442 ton.
Sementara penyaluran stok CBP selama tahun 2025 mencatatkan total 1,62 juta ton yang terdiri dari SPHP beras yang menempati porsi terbesar dengan 802,9 ribu ton. Kemudian untuk bantuan pangan beras 710,78 ribu ton, golongan anggaran 92,1 ribu ton, dan tanggap darurat 13,16 ribu ton.
Deputi Bapanas Ketut menjelaskan berbagai program baik tersebut tentunya masih akan dilanjutkan untuk tahun 2026. Apalagi pemerintah saat ini memperkuat stok CBP dengan mengandalkan penyerapan produksi petani dalam negeri sepenuhnya.
"Saat ini pemerintah fokus penyerapan panen petani kita untuk CBP. Ini juga diiringi dengan pelaksanaan program penyaluran ke masyarakat sampai akhir tahun nanti. Tentunya upaya ini harus kontinyu diimplementasikan agar hulu dan hilir selalu terjaga kestabilannya," ujar Deputi Ketut.
Untuk diketahui, per 18 Juni, realisasi penyaluran CBP untuk anggaran 2026 telah menyentuh total 946,8 ribu ton. Ini terdiri dari bantuan pangan beras 550,1 ribu ton, SPHP beras 348,5 ribu ton, golongan anggaran 36,8 ribu ton, dan tanggap darurat 11,3 ribu ton. Pemerintah pun telah memutuskan bantuan pangan beras akan ditambah 3 bulan alokasi di semester kedua tahun ini.
Sementara total stok beras yang ada di Bulog sampai 18 Juni 2026 berada di angka 5,2 juta ton. Ini bersumber dari pengadaan setara beras produksi dalam negeri sejak awal 2026 yang telah mencapai 3,18 juta ton. Selain itu juga ditopang dari stok akhir tahun 2025 yang masih 3,24 juta ton dengan realisasi pengadaan produksi dalam negeri selama 2025 di 3,43 juta ton tanpa ada impor.
Dalam berbagai kesempatan, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian menyatakan beras Indonesia melimpah ruah untuk masyarakat. Pemerintah tidak menginginkan ada importasi beras dengan kondisi beras yang eksponensial seperti hari ini.
"Beras kita melimpah. Semua gudang kita penuh dengan beras sekarang ini. Stok sekarang 5,2 juta ton. Kemampuan gudang kita 3 juta ton. Kita sudah sewa 2,3 juta ton dan ini tertinggi selama merdeka," kata Amran.
"Kalau dulu, stok di Bulog hanya 1 juta ton kemudian harga naik, kesimpulannya impor. Sekarang berbeda. Kita surplus. Kita sudah swasembada," tambah Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.
Pencapaian produksi beras Indonesia turut disebut dalam laporan Rice Outlook edisi Mei 2026 yang dirilis United States Department of Agriculture (USDA). USDA melaporkan produksi beras secara global periode 2025-2026 meningkat 1,5 juta ton. Pada Rice Outlook bulan April 541,3 juta ton dan naik menjadi totalnya 542,8 juta ton.
Indonesia disebut menjadi salah satu negara dengan perkembangan angka produksi beras setahun tertinggi bersama Nigeria, Pantai Gading, dan Vietnam. Namun jika dibandingkan 3 negara tadi, hanya Indonesia yang memiliki angka total produksi beras setahun mencapai lebih dari 30 juta ton. Nigeria berada di angka 5,9 juta ton, Pantai Gading 1,7 juta ton, dan Vietnam 26,2 juta ton.
-----------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
334/R-BAPANAS/VI/2026
18 Juni 2026