Jumat, 02 Oktober 2026
Humas Badan Pangan Nasional
Deskripsi
JAKARTA — Guna menjaga inflasi beras, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengeluarkan penugasan kepada Perum Bulog untuk menambah alokasi program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras sebanyak 74,18 ribu ton atau ekuivalen dengan 14,83 juta kemasan beras SPHP ukuran 5 kilogram (kg).
Penambahan SPHP beras ini menyusul penugasan sebelumnya, yakni penyaluran SPHP beras sejumlah 828 ribu ton yang telah tuntas 100 persen pada 23 September 2026. Kebutuhan anggaran untuk tambahan penugasan SPHP beras 74,18 ribu ton ini sebesar Rp 409 miliar dan Bulog diberi tenggat waktu salur sampai 20 November mendatang.
"Sekarang stok beras kita banyak. Indonesia tidak impor beras medium lagi. Kita operasi besar. SPHP beras digelontorkan. Kemudian ada bantuan pangan untuk 33,24 juta orang di seluruh Indonesia," kata Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga Menteri Pertanian dikutip di Jakarta pada Jumat (2/10/2026).
Lebih lanjut, tingkat inflasi khusus beras secara tahunan per September berada di level 3,73 persen. Jika dibandingkan terhadap bulan sebelumnya memang terjadi peningkatan. Namun terhadap September tahun 2025 yang 4,06 persen, inflasi beras pada September 2026 masih lebih stabil. Bahkan inflasi beras pada September 2024 sempat mencatat level 5,91 persen.
Adapun stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog masih berada di angka 4,48 juta ton per 30 September. Sementara total salur CBP sepanjang tahun 2026 sampai akhir September telah mencapai total 2,73 juta ton.
Rinciannya antara lain realisasi penjualan beras program SPHP pada Januari-Februari yang 221,05 ribu ton. Kemudian realisasi SPHP beras Maret sampai September yang mencapai 828 ribu ton.
Ada pula realisasi program bantuan pangan tahap pertama 662,86 ribu ton dan bantuan pangan tahap kedua yang telah berjalan hingga 944 ribu ton. Terakhir, penyaluran bantuan bencana dan keadaan darurat 13,3 ribu ton dan golongan anggaran 63,9 ribu ton.
Apabila dikomparasikan terhadap September tahun 2025, total salur CBP telah melesat pesat hingga 245 persen dari 790,8 ribu ton pada September 2025, saat ini telah mencapai hingga 2,73 juta ton. Sementara stok beras pemerintah di Bulog telah meningkat sebesar 14,8 persen dari 3,9 juta ton kala itu, saat ini menjadi 4,48 juta ton.
Terpisah, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono memaparkan analisis beberapa penyebab fluktuasi harga beras yang terjadi di September. Faktor cuaca menjadi pemicu kuat yang menyebabkan deklinasi produksi di dalam negeri.
"Untuk kenaikan harga beras pada bulan September 2026, ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan beras setelah berakhirnya masa puncak panen raya. Kemudian juga ada kondisi kemarau yang lebih kering, terkait dengan adanya fenomena El Nino," urai Deputi BPS Ateng.
BPS juga mengutarakan fluktuasi harga beras sangat dipengaruhi pada kelancaran rantai pasok di hulu. Apabila pasokan gabah tersendat masuk ke penggilingan, tentu punya implikasi yang signifikan.
"Tentunya (kemarau) ini turut membatasi dari kegiatan untuk menanam dan juga terjadi pada beberapa di sentra produksi, sehingga ada pasokan gabah yang masuk ke penggilingan menjadi ada hambatan atau terbatas," jelas Ateng lagi.
Kendati demikian, kinerja luas panen padi pada El Nino tahun 2026 disebut BPS masih lebih ciamik dibandingkan El Nino yang melanda Indonesia pada tahun 2023 dan 2024. Luas panen padi Januari sampai November 2026 diperkirakan 10,56 juta hektare dan ini jauh lebih tinggi daripada 2023 dan 2024 yang masing-masing di 9,86 juta hektare dan 9,69 juta hektare.
Salah satu capaian positifnya pada September 2026 ini menorehkan indeks harga yang diterima petani padi yang semakin meningkat pesat. Pada September 2026, indeks harga yang diterima petani padi menyentuh hingga 155,61 dan melampaui catatan indeks-indeks sebelumnya dalam 8 tahun terakhir.
-----------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
501/R-BAPANAS/X/2026
2 Oktober 2026