Senin, 24 Agustus 2026
Humas Badan Pangan Nasional
Deskripsi
DALIAN, RRT — Indonesia berkomitmen untuk memperkuat sistem pangan kawasan Asia Pasifik melalui kerja sama regional yang saat ini difokuskan pada inovasi dan digitalisasi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif Indonesia dalam Policy Partnership on Food Security (PPFS) di bawah forum Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). PPFS merupakan fora di APEC yang membahas isu ketahanan pangan melalui penguatan kerja sama sektor publik dan swasta.
Sebagai National Focal Point APEC PPFS, Badan Pangan Nasional (Bapanas) secara aktif mengawal pembahasan berbagai agenda ketahanan pangan dalam rangkaian APEC Food Security Week yang berlangsung pada 18–22 Agustus 2026 di Dalian, Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian APEC Senior Officials' Meeting (SOM) 3.
“Indonesia tentunya aktif mengawal substansi pembahasan agar kerja sama yang dihasilkan relevan dengan kebutuhan dan kepentingan nasional. Ketahanan pangan merupakan tantangan bersama yang membutuhkan inovasi, digitalisasi, serta kolaborasi lintas ekonomi,” ujar Ketua Tim Kerja Sama Bapanas, Sulistiyorini, dikutip Senin (24/8/2026).
Sulistiyorini mengatakan, keterlibatan aktif Indonesia dalam PPFS menjadi momentum penting untuk memastikan pengalaman, kepentingan, dan posisi nasional Indonesia dapat terakomodasi dalam arah kerja sama ketahanan pangan kawasan.
Ia menjelaskan, pengawalan terhadap agenda PPFS telah dilakukan sejak Februari 2026. Bapanas terlibat dalam berbagai proses virtual negotiation, virtual consultation, serta penyampaian masukan tertulis terhadap rancangan dokumen yang dibahas.
“Proses negosiasi dan penyampaian masukan dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan perspektif Indonesia dapat tercermin dalam dokumen yang akan disepakati secara konsensus. Ini merupakan bagian dari diplomasi pangan Indonesia di kawasan Asia Pasifik,” lanjutnya.
Dalam PPFS Plenary meeting Indonesia menyampaikan perkembangan inivasi dan digitalisasi pangan yang dilakukan Indonesia termasuk yang memfasilitasi perdagangan pangan internasional melalui penerpan Online Single Submission, e-certificate, juga INSW.
Tiga Deliverables Ketahanan Pangan
Dalam PPFS Plenary Meeting pada 21 Agustus 2026, tiga deliverables telah mendapatkan endorsement untuk selanjutnya diadopsi pada 11th APEC Food Security Ministerial Meeting (FSMM) yang akan berlangsung di Hangzhou, RRT, pada 24–25 Agustus 2026.
Ketiga deliverables tersebut meliputi: Principles for Strengthening Food Systems Resilience in the APEC Region through Innovation and Digitalization; Joint Statement of the 11th APEC Food Security Ministerial Meeting (FSMM); dan Expert Group Operational Document.
Dokumen Principles for Strengthening Food Systems Resilience in the APEC Region through Innovation and Digitalization menyediakan opsi bagi ekonomi APEC untuk memperkuat ketahanan sistem pangan melalui inovasi dan digitalisasi. Dokumen tersebut mencakup lima prinsip utama yang dilengkapi dengan rencana aksi.
Sementara itu, Joint Statement of the 11th APEC Food Security Ministerial Meeting memuat delapan isu kunci, yaitu inovasi dan digitalisasi; pencegahan dan pengurangan food loss and waste (FLW); pengelolaan sumber daya alam dan resiliensi pertanian; perikanan dan akuakultur; fasilitasi perdagangan; investasi pertanian; pembangunan pedesaan; serta penguatan peran fora dan working group dalam APEC.
Adapun Expert Group Operational Document menjadi panduan praktis bagi Expert Group di dalam PPFS untuk bekerja secara lebih efektif, terkoordinasi, dan transparan dalam mendukung prioritas PPFS serta implementasi Food Security Roadmap towards 2030.
Perkuat Kerja Sama Lintas Sektor
Rangkaian APEC Food Security Week di Dalian mencakup sejumlah agenda strategis, antara lain Workshop on Addressing the Effects of Agri-Food System Changes to Achieve Food Security by Adopting Innovative Technologies, The 4th APEC Seminar on Digitalization and Innovation in Food Supply Chain, serta High-Level Public-Private Dialogue on Food Security dengan tema Innovation-Driven, Win-Win Cooperation: Building a More Resilient, Efficient, and High Quality Food System for the Asia-Pacific.
Selain itu, agenda juga mencakup PPFS Plenary Meeting yang didahului face-to-face meeting, serta APEC PPFS-OFWG-ATCWG-HLPDAB Joint Meeting yang mempertemukan PPFS dengan Ocean and Fisheries Working Group (OFWG), Agricultural Technical Cooperation Working Group (ATCWG), dan APEC High Level Policy Dialogue on Agricultural Biotechnology (HLPDAB).
PPFS Plenary Meeting dihadiri perwakilan dari 17 ekonomi APEC, yaitu Australia, Kanada, Chili, RRT, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Selandia Baru, Peru, Filipina, Rusia, Singapura, Chinese Taipei, Tailan, Amerika Serikat, dan Viet Nam.
Sulistiyorini menambahkan, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi terus ditingkatkan.
“Transformasi sistem pangan membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Inovasi dan digitalisasi harus dapat memperkuat efisiensi, ketahanan, dan kualitas sistem pangan, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan stakeholder lainnya termasuk sektor swasta yang dapat mendorong inovasi sekaligus pertumbuhan ekonomi” pungkasnya.
-----------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
438/R-BAPANAS/VIII/2026
24 Agustus 2026