Publikasi Pers

Indonesia Hebat 96 Persen Tidak Impor Pangan, Strategi Jitu Presiden Prabowo Subianto

Jumat, 22 Mei 2026

Humas Badan Pangan Nasional

Deskripsi

JAKARTA — Di kala ranah global kembali terjadi riuh geopolitik yang sebabkan distorsi rantai pasok perdagangan internasional, Indonesia percaya diri mampu mengatasinya dengan menegakkan prinsip berdikari. Sektor pangan sebagaimana visi Presiden Prabowo Subianto telah dipersiapkan kekuatannya, sehingga impor pangan Indonesia menjadi menurun drastis.

Konkretisasi tersebut diutarakan oleh Presiden Prabowo di depan para wakil rakyat di Gedung DPR/MPR RI (20/5/2026). RI-1 mengungkapkan bahwa dirinya telah memetik pelajaran sejak terjadi krisis dunia akibat COVID-19 yang mengharuskan Indonesia menyokong pangan dari hasil keringat petani dan peternak sendiri.

"Saudara-saudara, karena kita memang sudah antisipasi ketegangan dan krisis yang mungkin timbul karena kita telah diberi warning dengan COVID, kita baru mengerti dan sadar. Begitu ada krisis dunia, negara-negara pengekspor pangan akan tutup. Harga pangan naik semua. Tidak hanya gandum (tapi juga) beras, jagung, gula, naik semua. Begitu perang Ukraine, naik lagi," urai Kepala Negara.

"Jadi kita sudah antisipasi. Karena itu, saya canangkan program utama saya adalah mengamankan pangan Indonesia. Kita harus swasembada pangan dan alhamdulillah saya dibantu oleh tim pertanian saya yang luar biasa. Saya beri target 4 tahun, mereka hasilkan swasembada dalam 1 tahun," ungkap Presiden Prabowo.

Sebelumnya, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa Indonesia saat ini sudah meraih swasembada pangan. Amran pastikan porsi impor pangan pokok strategis hanya berkisar di 4 sampai 5 persen saja.

"Saya tanya, mana lebih banyak 3,2 juta ton atau kita produksi 73 juta ton, mana lebih banyak? Kalau dibagi tadi 3,2 juta ton dibagi 73 ton, ini produksi ya, berapa? Sekitar 4,5 persen. Hebat negeri kita, bangga dong sebagai anak bangsa. Negeriku 96 persen tidak impor dari kebutuhan dan produksi dalam negeri," kata Amran (19/5/2026).

Adapun angka 3,2 juta ton merupakan deviasi produksi terhadap kebutuhan konsumsi dari 3 jenis pangan pokok yang terpaksa masih harus dipasok dari importasi. Sementara total proyeksi produksi dalam negeri setahun untuk 11 jenis pangan pokok secara nasional berada di angka 73,7 juta ton.

Secara terperinci, angka produksi dan konsumsi selama setahun untuk 11 komoditas antara lain beras dengan produksi 34,7 juta ton yang diproyeksikan masih lebih banyak dibandingkan kebutuhan konsumsi yang 31,1 juta ton. Kemudian jagung dengan total produksi 18 juta ton, sedangkan kebutuhan konsumsi 16,7 juta ton. Bawang merah produksinya 1,4 juta ton dengan konsumsi 1,3 juta ton.

Selanjutnya cabai besar dengan produksi 1,5 juta ton dan konsumsi 929,2 ribu ton. Cabai rawit dengan produksi 1,6 juta ton dan konsumsi 913,6 ribu ton. Daging ayam ras produksinya 5,4 juta ton masih lebih tinggi dibandingkan konsumsi 4 juta ton.Telur ayam ras dengan produksi 7,3 juta ton lebih besar daripada konsumsi 6,4 juta ton. Gula konsumsi diestimasikan produksi 3 juta ton dengan konsumsi 2,8 juta ton.

Terakhir, untuk 3 jenis pangan yang masih terpaksa impor antara lain kedelai dengan perkiraan produksi 240 ribu ton, sementara kebutuhan konsumsi setahun 2,7 juta ton. Bawang putih produksi dalan negeri di 23,5 ribu ton dengan konsumsi 718,5 ribu ton. Daging sapi/kerbau produksinya 610,9 ribu ton dengan konsumsi 794,3 ribu ton.

Oleh karena itu, Amran bertekad akan terus mereduksi porsi impor pangan secara nasional. Tentunya dengan akselerasi produksi dalam negeri. Ini juga menjadi sinyal bahaya kepada para pelaku anomali pangan yang justru lebih bahagia apabila Indonesia semakin banyak impor.

"Aku kerja keras. Beritahu mafia, hei kamu bersadar mafia, ini pertanian lagi kerja keras. Aku teruskan perjuangan ini. Pokoknya berantas mafia, berantas koruptor, tanam cepat. Aku teruskan ini. Selama napasku masih ada dipinjami Allah, aku akan bela rakyat kecil, bela petani peternak Indonesia," tegas Kepala Bapanas Amran.

Sebagaimana diketahui, sejak tahun 2025, Indonesia sudah berhenti impor beras umum dan jagung pakan yang kuantitasnya pada tahun-tahun sebelumnya cukup besar. Komitmen tersebut dipastikan terus dilanjutkan pada tahun 2026 ini dengan ditambah setop impor gula untuk konsumsi.

Salah satu implikasi positifnya berpengaruh pada torehan Nilai Tukar Petani (NTP) Tanpa Perikanan secara nasional mencapai titik tertinggi dalam 7 tahun terakhir. NTP Tanpa Perikanan pada Desember 2025 berada di 126,11 dan masih lebih tinggi dibandingkan indeks serupa pada Desember 2024 yang 123,51.


----------------------

Siaran Pers

Badan Pangan Nasional (Bapanas)

301/R-BAPANAS/V/2026

22 Mei 2026