Minggu, 17 Mei 2026
Humas Badan Pangan Nasional
Deskripsi
TUBAN — Panen raya jagung serentak kuartal II yang dihadiri langsung Presiden Prabowo Subianto pada Sabtu (16/5/2026) di Tuban, Jawa Timur, menunjukkan bahwa produksi jagung dalam negeri sangat mampu menopang ketahanan pangan nasional. Panen raya kali ini seluas 189.760 hektare dengan potensi hasil panen mencapai 1,23 juta ton. Capaian tersebut memberikan kontribusi sekitar 6 persen terhadap total produksi jagung nasional dan menjadi sinyal kuat meningkatnya kapasitas produksi pangan dalam negeri.
Secara nasional, Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen sepanjang 2025 mencapai 16,16 juta ton atau meningkat 6,74 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 15,14 juta ton. Tren positif tersebut diproyeksikan terus berlanjut pada 2026.
Dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026, total ketersediaan jagung diperkirakan dapat mencapai 22,42 juta ton, sementara kebutuhan nasional berada pada kisaran 16,69 juta ton. Dengan demikian, Indonesia diperkirakan mencatat surplus jagung sekitar 5,73 juta ton.
Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan, produksi jagung yang dihasilkan oleh para petani dengan kemitraan Polri ini mampu mendorong pemenuhan Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) yang dikelola oleh Bulog.
“Dari luas lahan yang panen hari ini di Tuban, potensi hasil panen diperkirakan mencapai 609 ton dan hasil panen akan dikirimkan ke Bulog guna mendukung penguatan Cadangan Pangan Pemerintah dan menjaga stabilitas pangan,” ujar Jenderal Listyo.
Penguatan produksi jagung di hulu merupakan rangkaian ekosistem yang terbangun hingga hilir melalui penguatan stok CJP sebagai instrumen untuk stabilisasi pangan sebagaimana diamanatkan dalam Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Jagung Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Jagung Pemerintah Tahun 2026–2029.
Melalui kebijakan tersebut, Presiden Prabowo menginstruksikan Perum Bulog melaksanakan pengadaan jagung dalam negeri sebanyak 1 juta ton sepanjang 2026 dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 5.500 per kilogram untuk jagung berkadar air 18 hingga 20 persen. Kebijakan ini menjadi bentuk nyata keberpihakan pemerintah terhadap petani jagung nasional sekaligus penguatan stok Cadangan Jagung Pemerintah.
Realisasi pengadaan jagung domestik oleh Bulog juga menunjukkan peningkatan signifikan. Sepanjang 2025, pengadaan jagung mencapai 101 ribu ton. Sementara pada kuartal I 2026, stok CJP meningkat menjadi 168 ribu ton, seiring realisasi pengadaan dalam negeri yang hingga awal April telah mencapai 125,2 ribu ton atau 123,9 persen dibandingkan total realisasi pengadaan tahun sebelumnya.
Selain memperkuat stok jagung nasional, pemerintah juga memastikan keberlanjutan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan di tingkat produsen guna menjaga keseimbangan harga telur ayam ras dan daging ayam ras di tingkat konsumen.
Harga jagung pakan dalam program SPHP jagung ini ditetapkan sebesar Rp 5.000 per kilogram untuk pengambilan di gudang Bulog dan maksimal Rp 5.500 per kilogram di tingkat peternak. Penyaluran dilakukan melalui koperasi maupun asosiasi peternak kepada anggota yang telah terdaftar dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian.
Adapun hingga 16 Mei 2026, realisasi SPHP jagung yang disalurkan Bulog ke peternak mencapai 5,95 ribu ton atau 2,79 persen dari target salur yang ditetapkan pada tahun 2026 sebesar 213 ribu ton.
Presiden Prabowo dalam arahannya pada panen raya jagung kuartal II 2026 mengapresiasi Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman beserta lintas sektor yang solid dalam mendukung peningkatan produksi pangan nasional, termasuk keterlibatan Polri dalam pengembangan ekosistem pertanian jagung dari hulu hingga hilir.
"Karena itu saya terima kasih. Tim pertanian, tim pangan saya sangat baik, sangat kuat. Dipimpin Menteri Pertanian, Wakil Menteri Pertanian, Kepala Badan, Bulog, Agrinas, semuanya. Dan didukung oleh Panglima TNI serta didukung oleh Kapolri dan jajarannya," ujar Presiden Prabowo.
Menurut Presiden, sejarah telah membuktikan bahwa negara tidak akan mampu bertahan tanpa produksi pangan yang aman, lancar, dan berkelanjutan.
“Tidak mungkin suatu negara dapat bertahan tanpa produksi pangan yang aman, lancar, dan berkesinambungan. Bukan hanya sekali panen bagus, lalu berikutnya gagal. Harus terus berkelanjutan,” pungkas Kepala Negara.
--------------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
295/R-BAPANAS/VI/2026
17 Mei 2026