Jumat, 28 November 2025
Humas Badan Pangan Nasional
Deskripsi
JAKARTA – Upaya kolaboratif pemerintah dalam pengendalian harga beras secara nasional tak pernah kendur dan akan terus berjalan. Dalam sebulan terakhir, jumlah kabupaten/kota dengan kenaikan harga beras pun semakin mengecil. Ini tentunya berdasarkan amatan Badan Pusat Statistik (BPS).
BPS melaporkan penurunan jumlah kabupaten/kota dengan kenaikan harga beras mulai terlihat dalam rentang minggu ketiga Oktober terhadap minggu ketiga November. Pada minggu ketiga bulan lalu masih ada 62 kabupaten/kota dengan kenaikan harga beras. Terbaru di minggu ketiga November menurun ke 37 kabupaten/kota saja.
"Satgas pengendalian harga beras terus turun. Jadi kemarin ada 48 kabupaten (minggu kelima Oktober), 48 daerah, tapi ini sudah turun (menjadi 37 daerah). Satgas dan Bapanas kan sudah menurunkan harga. Nah sekarang kita mau turunkan lagi. Kita tidak boleh puas," kata Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat jumpa pers di Jakarta, Jumat (28/11/2025).
"Kenapa? Masyarakat ingin kita sempurna. Tapi tidak mungkin kami penuhi semua keinginan masyarakat. Kami juga manusia biasa. Jadi teman-teman Dirjen, Deputi, Satgas, kita sabar. Kita harus sabar tingkat tinggi. Kita sudah kerja siang malam demi negara, merah putih, tapi belum tentu orang berpandangan bahwa kita ini kerja serius. Kita harus sabar saja," ucapnya lagi.
Adapun penurunan harga beras, baik medium maupun premium, tampak pula pada rerata harga secara nasional dalam Panel Harga Pangan yang dikelola Bapanas. Rerata harga pada 27 November jika dibandingkan terhadap sebulan sebelumnya, maka fluktuasi harga beras medium terbukti telah berhasil ditekan.
Rerata harga beras medium di Zona 1 per 27 November berada di Rp 13.078 per kilogram (kg). Ini menurun sebanyak 1,92 persen dibandingkan sebulan lalu yang masih berada di Rp 13.334 per kg. Zona 2 telah berada di level Rp 13.616 per kg. Ini juga menurun sebanyak 2,29 persen karena sebulan lalu masih di Rp 13.935 per kg. Sementara Zona 3 menurun 4,67 persen dari Rp 16.293 per kg menjadi Rp 15.532 per kg.
Kendati demikian, rerata harga beras premium secara nasional masih perlu digenjot intervensi pemerintah untuk pengendaliannya. Rerata harga beras premium di Zona 1 telah berada di level Rp 14.806 per kg yang telah menurun 1,01 persen dibandingkan sebulan sebelumnya. Zona 2 juga telah menurun 1,68 persen dan Zona 3 menurun 4,46 persen. Namun masih berada melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium.
Dalam data BPS juga disebut terdapat penurunan harga beras dalam sebulan terakhir. Harga beras medium sampai minggu ketiga November dilaporkan mengalami penurunan 1,54 persen dibandingkan Oktober 2025. Sementara untuk harga beras premium juga disebut menurun 1,67 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
"Produksi beras Indonesia tahun ini meningkat pesat. Jadi stok beras sangat aman. Masyarakat tidak boleh mendapatkan beras dengan harga yang tidak sesuai HET. Petani pun juga tidak boleh jatuh harganya. Motivasi petani kita harus terus dijaga. Pemerintah harus menjaga petani sampai masyarakat," pungkas Amran.
Untuk diketahui, menurut BPS dalam Kerangka Sampel Area (KSA) amatan September 2025, produksi beras nasional Januari sampai Desember dapat mencapai 34,77 juta ton. Capaian ini telah mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia setahun ini yang berkisar di angka 30,97 juta ton, sehingga tercipta surplus sebanyak 3,8 juta ton.
Sementara, terdapat perkiraan produksi beras Indonesia yang terbaru dari Food and Agriculture Organization (FAO). Dalam Food Outlook edisi November 2025, FAO memprediksi produksi beras Indonesia untuk periode 2025-2026 dapat mencapai 36 juta ton.
Proyeksi ini meningkat jika dibandingkan Food Outlook FAO edisi Juni 2025 sebelumnya yang memperkirakan produksi beras Indonesia di angka 35,6 juta ton. FAO pun melaporkan musim 2025-2026 akan mencatatkan rekor produksi beras global yang naik 1,2 persen dibandingkan musim sebelumnya.
Dengan produksi beras 36 juta ton tersebut, menasbihkan Indonesia menjadi produsen beras terbesar di kawasan Asia Tenggara. Indonesia disebut melebihi Vietnam 28,2 juta ton, Thailand 22,2 juta ton, Myanmar 16,7 juta ton, Filipina 12,5 juta ton hingga Malaysia 1,5 juta ton.
--------------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
447/R-BAPANAS/XI/2025
28 November 2025