Kamis, 03 September 2026
Humas Badan Pangan Nasional
Deskripsi
JAKARTA - Kepedulian terhadap persoalan sisa pangan perlu bergerak menjadi aksi nyata. Generasi Z (Gen-Z) memiliki peluang besar untuk mengambil peran melalui perubahan kebiasaan, kampanye kreatif, gerakan komunitas, hingga penelitian dan inovasi yang dapat mendorong sistem pangan Indonesia semakin berkelanjutan.
Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nita Yulianis mengatakan, energi dan kreativitas generasi muda menjadi kekuatan penting dalam memperluas upaya penyelamatan pangan. Keterlibatan Gen-Z dinilai dapat memperkuat kolaborasi sekaligus mendorong perubahan dari lingkungan terdekat.
“Saya sampaikan selamat kepada 12 teman-teman muda yang memiliki kemauan kuat untuk memahami upaya pencegahan sisa pangan dan apresiasi kepada Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) atas terselenggaranya Gen-Z for Sustainable Food Systems (GSFS) 2026 yang merupakan wadah untuk menyalurkan energi dan kreativitas muda menuangkan pemikiran untuk ikut serta menjawab persoalan sisa pangan di Indonesia", kata Nita dalam Talkshow Suara dari Sistem GSFS 2026.
Menurut Nita, pengurangan sisa pangan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dalam sistem pangan. Pemerintah, pelaku usaha, industri, hingga konsumen memiliki ruang untuk berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing sehingga perubahan dapat dibangun secara bersama dan berkelanjutan.
Untuk memperkuat keterlibatan generasi muda, Bapanas membuka berbagai ruang edukasi dan pengembangan kapasitas di lingkungan pendidikan. Upaya tersebut dilakukan antara lain melalui kuliah praktisi di Politeknik Negeri Lampung, Festival Lestari Universitas Gadjah Mada, kegiatan Ideation Universitas Padjadjaran, serta kegiatan tematik Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama UIN Jakarta.
Ruang tersebut tidak hanya menjadi sarana untuk mengenalkan isu penyelamatan pangan, tetapi juga mendorong pelajar dan mahasiswa mengembangkan gagasan serta aksi sesuai lingkungan masing-masing. Pendekatan ini diperkuat melalui Gerakan Selamatkan Pangan dan Kampanye Stop Boros Pangan yang mendorong masyarakat membangun kebiasaan lebih bijak dalam memanfaatkan pangan.
Bapanas juga menggunakan kanal komunikasi yang dekat dengan karakter generasi muda. Sosialisasi melalui podcast dengan tema khusus bagi anak muda dan melibatkan influencer dari kalangan Gen-Z menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas jangkauan pesan mengenai pencegahan susut dan sisa pangan.
Selain melalui edukasi dan komunikasi, ruang partisipasi generasi muda juga dibangun melalui kegiatan kreatif. Pada 2025, Bapanas mengajak pelajar tingkat SMA/sederajat dan mahasiswa terlibat dalam sosialisasi pencegahan susut dan sisa pangan melalui Lomba Poster dalam rangka Hari Kesadaran Internasional Susut dan Sisa Pangan 2025.
“Generasi muda dapat memulai upaya penyelamatan pangan mulai dari melakukan perubahan perilaku diri sendiri, meningkatkan kesadaran melalui kampanye kekinian, dan berkolaborasi aktif dengan komunitas” ungkapnya lebih lanjut.
Nita melihat, kekuatan Gen-Z tidak hanya terletak pada gagasan, tetapi juga pada kemampuan menerjemahkannya menjadi aksi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Peran tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai inisiatif di komunitas, tempat kerja, maupun wilayah tempat tinggal sesuai kompetensi yang dimiliki.
“Saya optimis, setelah kegiatan GSFS 2026 akan lahir aksi nyata dalam pengurangan sisa pangan melaui penelitian, kajian, dan inovasi sesuai dengan kompetensi baik di komunitas, pekerjaan, dan wilayah masing-masing” paparnya.
Pandangan serupa disampaikan Former Chairwoman GRASP 2030 Angelique Dewi yang merepresentasikan perspektif bisnis dalam membangun sistem pangan berkelanjutan. Ia menilai, pengetahuan generasi muda mengenai persoalan pangan akan semakin bermakna ketika diwujudkan dalam aksi yang memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.
“Peran generasi muda jangan berhenti pada pemahaman persoalan pangan saja tetapi harus membawa dampak lingkungan sekitar kalian”, pesan Angelique.
Pesan tersebut mengemuka dalam Talkshow Gen-Z for Sustainable Food Systems (GSFS) 2026 yang diselenggarakan Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) di Jakarta, Selasa (1/9/2026). Kegiatan ini diikuti 12 finalis berusia 18–29 tahun yang mendapat ruang untuk meningkatkan kapasitas dan mengembangkan gagasan mengenai transformasi sistem pangan Indonesia yang berkelanjutan, khususnya dalam meminimalkan susut dan sisa pangan. Keterlibatan generasi muda melalui berbagai ruang edukasi, kolaborasi, dan kreativitas diharapkan semakin memperkuat Gerakan Selamatkan Pangan serta mendorong perubahan kebiasaan pangan di masyarakat.
------------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
457/R-BAPANAS/IX/2026
3 September 2026