Sabtu, 22 Agustus 2026
Humas Badan Pangan Nasional
Deskripsi
JAKARTA - Upaya mencegah pangan layak dan aman konsumsi terbuang terus diperluas melalui keterlibatan generasi muda. Sebanyak 35 pemuda dari Bandung Raya mulai mengambil peran dalam gerakan penyelamatan pangan dengan memperkuat pemahaman mengenai susut dan sisa pangan melalui komunitas Hareudang Bandung. Keterlibatan generasi muda ini menjadi bagian dari upaya memperluas aksi penyelamatan pangan melalui edukasi, perubahan perilaku, dan inisiatif berbasis komunitas.
Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Nita Yulianis, mengatakan isu pangan merupakan persoalan strategis yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak dengan berbagai latar belakang. Menurutnya, anak muda memiliki peranan penting untuk menghadirkan inovasi dan pendekatan baru dalam menjawab tantangan untuk menjaga sistem pangan berkelanjutan melalui beragam kreativitas dan pemahaman terhadap kondisi masyarakat.
“Saya mengapresiasi bahwa isu pangan dapat dipahami dari berbagai perspektif. Kita tidak dapat bekerja sendiri karena pangan merupakan isu yang sangat strategis dan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Berbagai pengetahuan dan pengalaman dapat saling melengkapi, termasuk dalam memahami perilaku masyarakat, komunikasi, pola konsumsi, hingga bagaimana mendorong perubahan perilaku yang lebih bijak dalam memanfaatkan pangan,” tutur Nita dalam kegiatan On The Job Training (OJT) Hareudang Bandung yang dilaksanakan secara daring dari Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Nita, keterlibatan komunitas anak muda seperti Hareudang Bandung menunjukkan adanya keseriusan dalam memahami upaya pencegahan susut dan sisa pangan. Ia menilai pemahaman terhadap substansi penyelamatan pangan menjadi dasar untuk melahirkan inovasi, pendekatan, dan pelaksanaan program yang lebih cepat serta tepat sasaran.
“Nanti kita lihat apa yang dapat terus diinisiasi oleh Hareudang Bandung. Ini merupakan wujud keseriusan dan kepedulian generasi muda untuk memahami isu penyelamatan pangan, khususnya dalam upaya mencegah dan mengurangi susut dan sisa pangan,” sambungnya.
Penguatan gerakan penyelamatan pangan perlu didukung dengan data dan kajian agar aksi yang dilakukan memiliki dampak yang terukur. Langkah yang dimulai dari tingkat komunitas dapat berkembang menjadi gerakan yang memberikan manfaat lebih luas apabila dilakukan secara konsisten dan kolaboratif.
“Kita perlu memahami isu ini dengan baik karena pengetahuan akan membuka ruang bagi lahirnya berbagai inovasi, pendekatan, dan aksi yang lebih cepat dan tepat. Kajian berbasis data juga sangat penting sebagai dasar pengambilan kebijakan. Mungkin dimulai dari Cimahi atau Bandung, tetapi dengan kolaborasi yang kuat, inisiatif tersebut dapat memberikan dampak yang lebih luas, baik di Jawa Barat maupun secara nasional,” ujar Nita.
Pada penyelamatan pangan, Bapanas mendorong masyarakat memahami bahwa pangan yang berpotensi terbuang perlu dilihat kembali apakah masih layak dan aman untuk dikonsumsi. Pangan dengan kondisi tersebut dapat diselamatkan melalui redistribusi agar memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.
Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat.
Founder and Strategic Advisor Hareudang Bandung, Yoga Fauzan Renardi, menyampaikan bahwa komitmen anak muda terhadap isu pangan perlu terus diperkuat karena keberlanjutan pangan masa depan membutuhkan generasi yang memahami potensi dan tantangan pangan di wilayahnya masing-masing.
“Jadi saya sangat bangga Haredang Bandung bisa terus berkomitmen terus memiliki dan menunjukkan bahwasannya keperhatian kami terhadap bidang pangan khususnya dalam hal ini baik mengenai sisa pangan, penyelamatan pangan maupun dampaknya bagi ketahanan pangan. Karena menurut kami hal-hal tersebut jika memang bukan kami yang mengetahui lantas bagaimana keberlanjutan pangan masa depan kalau dari kami selaku bangsa sendiri tidak mengetahui apa sih pangan yang dimiliki oleh Indonesia, apa sih di Bandung ini ada apa yang bisa kita manfaatkan pangannya, di Bandung ini ada masalah pangan seperti apa,” ujar Yoga.
Yoga menambahkan, penguatan peran anak muda dalam isu pangan perlu dibangun melalui pengalaman dan keterlibatan langsung. Melalui kegiatan pembelajaran seperti OJT, Hareudang Bandung mendorong anggota muda untuk memahami persoalan pangan secara lebih dekat dan menerapkannya dalam kegiatan organisasi maupun di lingkungan sekitar.
“On The Job Training ini jadi salah satu bentuk ikhtiar kami menjadi indikator teman-teman dalam satu tahun ke depan untuk bisa bersama-sama berkontribusi di bidang pangan dan juga lingkungan,” imbuhnya.
Kolaborasi antara Bapanas dan komunitas pemuda menjadi langkah untuk memperluas gerakan penyelamatan pangan hingga tingkat masyarakat. Melalui peningkatan kapasitas, edukasi, penguatan data, dan aksi nyata, generasi muda diharapkan mampu menjadi penggerak dalam menjaga pangan tetap bernilai dan bermanfaat.
Adapun Bapanas mendorong agar anak muda tidak berhenti pada pemahaman mengenai isu pangan, tetapi mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi di lapangan. Penyelamatan pangan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak karena persoalan pangan berkaitan dengan perilaku masyarakat, komunikasi publik, inovasi, hingga penguatan kolaborasi antar sektor.
-----------------
Siaran Pers
Badan Pangan Nasional (Bapanas)
436/R-BAPANAS/VIII/2026
22 Agustus 2026